“Aktivitas mencurigakan terdeteksi, pihak terkait imbau masyarakat waspada dan tidak menanggapi permintaan donasi pribadi.”
KABARJAMBI – Sebuah akun Facebook atas nama Mukhtar Latif telah mengalami pembajakan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Hal ini mencuat setelah sejumlah pengguna Facebook menerima pesan pribadi (Messenger) dari akun tersebut yang berisi permintaan bantuan dana dengan alasan untuk keperluan pondok dan kegiatan sosial tertentu.
Beberapa penerima pesan mengaku terkejut karena permintaan tersebut dikirim secara personal dan bernada mendesak, sehingga menimbulkan kecurigaan. Setelah dikonfirmasi, pesan-pesan itu bukan dikirim langsung oleh pemilik akun, melainkan diduga dilakukan oleh pihak lain yang mengambil alih akses akun Facebook tersebut.
Pihak keluarga dan orang-orang terdekat Prof. Dr. Mukhtar Latif menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak pernah mengirimkan pesan permintaan bantuan dana secara pribadi melalui Messenger, apalagi kepada individu yang tidak dikenal secara langsung.
“Jika ada pesan masengger atau Whatsap yang mengatasnamakan Mukhtar Latif dan meminta bantuan dana atau transfer, dipastikan itu bukan dari beliau,” ujar salah satu pihak terdekat.
Kasus ini menguatkan bahwa akun Facebook mantan Rektor UIN Jambi yaitu Prof. Mukhtar Latif tersebut telah disalahgunakan untuk modus penipuan sosial, dengan memanfaatkan nama dan reputasi pemilik akun guna memperoleh keuntungan pribadi.
Masyarakat diimbau untuk tidak menanggapi pesan tersebut, tidak mengirimkan dana dalam bentuk apa pun, serta segera melakukan konfirmasi melalui jalur resmi apabila menerima pesan serupa. Selain itu, pengguna Facebook juga disarankan untuk melaporkan akun tersebut ke pihak Facebook agar dapat segera ditindaklanjuti.
Saat ini, langkah pengamanan akun tengah dilakukan, termasuk penggantian kata sandi, aktivasi pengamanan berlapis, serta pelaporan resmi kepada pihak Facebook guna mencegah penyalahgunaan lanjutan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar selalu waspada terhadap modus penipuan digital yang semakin marak, khususnya yang mengatasnamakan tokoh publik, akademisi, maupun figur dikenal lainnya.
